Sungai Kesedihan; Sasa

Di kota kami membentang sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan. Dalamnya pun melebihi tinggi badan Ayah, membuatku bergidik ngeri membayangkan akan langsung tenggelam karena tinggi badan kami yang jauh berbeda. Suhunya dingin menggigit. Hanya manusia super yang tahan berlama-lama di sana. Belum lagi kabut tebalnya yang mencekam seperti sedang dikelilingi dementor. Tak jarang burung Gagak melintas di atasnya. Menambah kesuraman sungai tersebut. Tapi, jika kita menyelupkan diri di sana, maka semua kesedihan yang membebani pundak akan langsung hilang.
 

Continue reading

Advertisements

Sungai Kesedihan; Yessy

Di kota kami membentang sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan. Dan sekarang, hujan turun lagi. Menyirami kota yang katanya kota hujan sinar matahari, karena letaknya tepat di equator. Hujan yang membuat ingatan tentang dia kembali menyair. Memori yang sebenarnya terkubur dalam. Continue reading

Sungai Kesedihan; Diah

Di kota kami membentang sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan.
Berbelas tahun aku hidup dari air mata itu, bermandikan tangis, makan cinta, minum hati, bernafas dengan rasa. Sungguh, aku tak pernah tahu mengapa aku tersesat di tepian sungai, dunia membiarkanku menapaki dermaga, menunggu deru angin yang kemudian hanya akan mengacuhkanku. Sampai suatu ketika aku tersadar, aku telah menciptakan aliran sungai kecil di pipiku yang menguap menjadi aliran sungai besar di depanku kini. Sungai kesedihan.

 

Flashfiction, 78 kata. @diahnov Continue reading

Sungai Kesedihan; Devya

Di kota kami membentang sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan. Bukankah memang demikian seharusnya sebuah sungai terbentuk? Dari air mata hujan yang terus berkumpul lalu menggenang kemudian mengalir dari hulu hingga hilir. Tapi nenek selalu menceritakan hal yang berbeda. Setiap malamnya sebelum tidur nenek akan menceritakan dongeng tentang sungai tersebut. Mari aku ceritakan ulang dongeng yang selalu menjadi pengantar tidurku ini. Continue reading

Sungai Kesedihan; Bella

Di kota kami membentang sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan. Beberapa orang sibuk berlalu-lalang dengan menggunakan payung kesedihan. Iya,kota kami sedang diguyur hujan, ada isakan tangis yang juga mengguyur, yang menyatu dengan tetesan air hujan di wajah. Berat untuk melangkah meninggalkan kerumunan yang dipenuhi dengan tangis sambil memeluk nisan tersebut, aku yang sedari tadi sudah melangkah lima langkah kini terpaku terdiam mengingat semua nya mengingat tawa candamu yang kini hanya menjadi asa. Kemana kenangan itu? Kemana dia yang dulu selalu terlihat bahagia namun pergi tanpa sengaja? Mungkin ini sudah takdirnya aku harus hidup tanpa ada putih, putih yang selalu menerangi dan kini telah menjadi noda dan hitam. Alangkah,bahagianya bagi orang yang masih bisa melihat kebahagiaan itu tanpa batas,sedangkan aku? Semua musnah tiada tara. Continue reading