Kupu-kupu; Angsana

Wahai Angsana, masihkah kau ingat pada dua kupu-kupu yang selalu kita lihat dalam waktu yang lama? Masa itu kita masih sering bertemu, menghabiskan waktu dengan sebagiannya meributkan sepi dengan tawa-tawa kita. Kala itu kita sering kali berada di sana, duduk-duduk di pondok ladang, sembari menunggu padi yang dikhawatirkan dimakan burung-burung kecil itu.
“Aku lebih suka dengan Kupu-kupu berwana putih”, begitu katamu, saat aku bertanya Kupu-kupu yang kau suka di antara dua Kupu-kupu itu.

“Kau tentu tahu bahwa putih melambangkan suci, dan orang-orang sangat mengagungkan kesucian. Aku suka putih karena putih itu berseri menunjukan kejujuran, apa adanya. Tanpa menjadi yang lain”
“Aku, kupu-kupu kuning”, kataku setelah kau bertanya.
“Sebab si Kuning selalu saja kulihat bersama dengan si Putih. Jika Kuning ada karena adanya Putih, maka aku menyukainya. Ia selalu ada bersama si Putih”.
Kau menoleh, memandangku tapi tak lama ketika suara Ibumu terdengar memanggil namamu. Kepalamu mengarah pada sumber suara. Kau pun beteriak, menjawab “Iya” dan melanjutkan kalimat yang menyatakan bahwa sebentar lagi kau ke sana, lalu berkata kepadaku, untuk menunggu sebab kau akan kembali.
Aku menunggumu di sana Angsana. Di Pondok ladang tempat kita sering bertemu, makan siang bersama, dan menghabiskan cerita tentang pelajaran sekolahmu lalu mengajari aku apa yang kau pelajari. Hal yang paling sering kudengar tentu saja, tentang cita-citamu itu, Angsana.
“Aku ingin melanjutkan kuliah di kota, Kam. Aku ingin kuliah di bidang komunikasi, menjadi Jurnalis” Aku khawatir padamu waktu itu, Angsana. Bisa-bisanya kau ingin menjadi orang menyampaikan berita hanya karena seorang reporter wanita yang ditangkap oleh sekelompok orang bersenjata saat bertugas di Irak. Berita tentang Jurnalis yang disandera itu menjadi berita utama di stasiun Tv tempat ia bekerja. Mendengar itu saja, aku ngeri, membahayakan nyawamu, tak bimbangk kah kau pada keselamatamu, Angsana.
Masa bepikirku, yang seakan menimbang-nimbang keinginanmu, ntah berapa lama sudah memakan waktu. Selama merenung itu pula aku tak tahu bahwa waktu hampir gelap. Kau tak kunjung datang. Tentu saja, aku tak berani menghampirimu di rumah. Sebentar lagi magrib, dan aku yakin Abahmu, pasti menyambutku dengan batuk yang dibuatnya, tanda menyuruhku pulang untuk bersiap salat ke masjid.
Hari itu seperti yang kau tahu, aku pun memutuskan langsung pulang ke rumah, aku tetap menggantungkan keinginanku ke rumahmu. Aku akan menunggumu di masjid saja. Lalu kita bersama mengaji di sana. Hanya, kenyatannya tak sama dengan pikiranku. Aku tak melihat dirimu. Tak melihat Abahmu, tak melihat Makmu juga. Kemana kalian angsana?
Selepas magrib dan mengaji, aku mencoba untuk ke rumahmu. Keberanianku muncul sebab aku selalu tahu, bahwa kau akan memberi kabar padaku jika kau akan pergi ke mana pun. Setidaknya, kau akan meminta bantuanku untuk menyiramkan bunga di pekarangan rumahmu. Jika memang kau pergi sekeluarga, semuanya terasa aneh Angsana. Masa panen sebentar lagi, padi sudah mulai menguning, bukan kah kita para petani menjaga mereka?
Lalu perasaanku akan ketidakmungkinan itu memberikan kenyataannya. Kau dan keluarga tak ada di rumah. Hanya lampu teras yang menerangi rumahmu. Aku tak dapat berbuat apa-apa Angsana, selain menunggu kau kembali. Selama kau pergi aku ke perkaranganmu, seperti biasanya. Menyiram bunga-bunga dahlia yang kau tanam.
Satu bulan sudah, hingga aku mendengar cerita anak-anak di masjid. Bahwa kau dan keluarga memutuskan untuk pindah. Pindah dari kampung kita ke Ibukota. Apa yang terjadi padaku Angsana? Aku merasa lesu seketika, aku ingin ke Ibukota dan bertanya mengapa kau tak datang padaku sore itu dan mengabarkan kepergiamu? Sebegitu tak pentingnya aku untukmu?
***
Hari ini aku di sini Angsana, berada di depan gedung tinggi yang banyak sekali jendela kacanya. Di bagian tengah dari gedung ini ada layar besar seperti 100 Tv menggabungkan diri. Darahku seakan semakin cepat mengalir, mulutku benar-benar terbuka sekarang angsana. Indah, Angsana! Indah! Kupu-kupu putih itu ada di dalam layar. Ia datang dengan kepakan yang memesona. Ia mengelilingi kuntum bunga bewarna kuning, bunga Dahlia. Kupu-kupu dan bunga itu sama pula seperti yang ada di halaman koran yang kubaca. Di bagian atasnya, di antara nomor halaman koran dan nama Kolom koran: Kepakan Kupu-kupu: Membagi Cinta untuk Dunia
Tak kusangka, aku berada di sini Angsana.Tiga bulan yang lalu aku membaca berita perjalanan dari selembar koran. Di situ aku terkesima pada cerita perjalanan seorang jurnalis yang meliput di tanah Gaza. Ya, Angsana aku sudah lancar membaca. Aku sudah bisa membaca tanpa mengeja. Tak lagi aku berhenti untuk menyambung kata satu dengan lainnya. Aku sudah bisa menyesuaikan intonasi dari kata-kata yang kubaca itu. Mana kalimat yang mengungkapkan marah, sedih, terharu, dan cinta. Seperti halnya ketika aku membaca nama Jurnalis yang menuliskan perjalanannya itu. Seperti yang sudah-sudah, aku membacanya dengan nada cinta dan tentu saja rindu, Angsana.
Sekarang nama yang kubaca dengan nada cinta dan rindu itu ada di layar 100 Tv, Angsana. Tampilannya sama dengan selembar kertas yang kubaca. Halaman koran itu ada di dalam layar. Aku bisa melihat wajah Jurnalis itu lebih jelas. Ia tampak bahagia di dalam gambar, bersama anak-anak Gaza di sana. Namanya berada di bawah tulisan Meresapi Serbuk Cinta di Gaza setelah oleh dengan titik dua, Angsana Asri Andayani.
Tak ingin aku berlama di depan layar itu, kuajak kaki berlari menuju pintu yang bisa terbuka sendiri. Aku menuju meja yang di belakangnya ada seorang wanita mengucapkan selamat pagi. Aku menyebut namaku dan mengatakan padanya aku ingin bertemu denganmu, Angsana.
Lalu wanita itu seperti di dalam sinetron dengan suasana kantor menelpon seseorang. Aku tak dapat mendengarnya, telingaku penuh dengan kalimat-kalimat Angsana semasa hariku bersama-samanya.
“Sebaiknya kau jangan berpikir bahaya-bahaya yang menimpaku ketika aku jadi Jurnalis. Aku butuh dukunganmu, bukan ketidakmampuanku dipikiranmu”. Aku merasa bersalah sekali menyampaikan bahwa sebaiknya kau mengubur mimpimu itu.
“Rukam?” pada saat aku menarik nafas panjang karena mengingat kalimat Angsana dulu, nafasku berhenti pada pertengahan aku akan menghembuskannya. Aku mendengar suaramu, Angsana. Nadanya terkejut bahagia.
“Akhirnya kau menerbangkan dirimu kemari, aku merindukanmu, Kuning”. Angsana memelukku. Saat menikmati kalimatnya, mataku mengarah pada layar besar di ruangan itu. Aku baru menyadari bahwa ada titik hitam di antara bunga dahlia dan kupu-kupu putih. Titik itu adalah mata.
“Kupu-kupu kuning?” kataku terkejut.
Kau melepaskan pelukanmu, mengikuti arah mataku. “Kau tidak menyadari adanya si Kuning di samping si Putih?” aku menggeleng untuk pertanyaanmu.
“Ah, sudahlah pentingnya kau kemari”

by: @nindaaditya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s