Kupu-kupu; Butterfly Couple

Pukul delapan lewat seperempat waktu Indonesia bagian barat.
Hampir tiga puluh menit mataku stuck memandang ke satu arah. Mencari setengah berharap sesosok pria berwajah manga itu muncul dari sana. Saat ini cuaca sedang panas. Tapi kenapa udara terminal 2D terasa begitu menggigit? Pikiran-pikiran buruk pun mulai menghantam kepalaku. Bagaimana kalau ia memang tidak muncul? Bagaimana kalau ia melarikan diri?
Kutatap tangan kananku yang kosong. Seharusnya benda berkilau itu ada di sana, tersemat di salah satu jariku. Seharusnya…
Arghh! Memikirkan ini saja sudah membuat kepalaku seperti kejatuhan palu. Sakitnya menggema. Membangunkan segala ingatan hari itu. Hari yang menjadi penentu gelap terangnya kehidupanku beberapa tahun kemudian. Ah, scratch that! Berpuluh-puluh tahun kemudian.

* * * * *

Seems like friday madness has clinged my arm since forever.
Aku bukan tipe orang yang membenci hari-hari tertentu. Bukan juga orang yang sangat mendewakan akhir pekan. Buatku semua hari sama. Hanya saja sebulan terakhir ini jumatku selalu berjalan tidak lancar. Entah itu bangun bertepatan dengan jam masuk kantor, salah mengirimkan kartu undangan pernikahan Nada—adikku, telat menghadiri rapat, sampai telat menyerahkan deadline. Untung saja bukan telat datang bulan.
Kuusap ujung mataku yang dari lima menit lalu tidak berhenti berair. Belakangan ini aku hanya tidur kurang dari empat jam. Entah itu karena tugas atau memang akunya sendiri yang sulit terlelap. Sungguh, punya banyak masalah lebih ampuh membuat mata terjaga dibanding minum kopi sampai kembung.
“Apa, Yas? Lo lagi di stasiun Manggarai nih sekarang? Wah, tanda-tanda akhir zaman!”
Menahan geram, kupijit ujung hidungku sebelum kembali menempelkan ponsel ke daun telinga.
“Mobil gue lagi dipakai sepupu jemput keluarga di Bandung. Secara yang nyuruh Bokap gak mungkin kan gue tolak permintaannya. Emang aneh banget ya kalo gue naik kendaraan umum?”
“Aneh sih enggak. Cuma takjub aja. Gue gak pernah ngebayangin elo, with that body of sophomore, menyatu bersama puluhan manusia lainnya dalam satu kendaraan dengan berbagai macam karakter dan bau badan. Udah kayak acara uji nyali aja.”
“Tinggi gue udah nambah lima senti sejak lulus SMA, tahu!”
“SMA itu 10 tahun yang lalu, Ayas. Lagian bantet dipelihara. Sapi noh dipelihara!”
Aku ikut tertawa di dalam hati mendengarnya. “Gak usah miara sapi deh, Han. Kalau stress itu digaji, gue yakin detik ini udah sekaya Bill Gates.”
Dan Rehan, sahabatku dari zaman kuda gigit besi pun tertawa renyah di ujung sana.
“By any chance, tumben-tumbenan lo nelepon gue, Han. Kenapa? Butuh baby sitter? Laki lo bertapa ke gunung mana lagi emang?”
“Gua denger, Bego.” Suara berat bercampur serak bergema dari belakang. Mendengarnya membuat ujung bibirku seketika tertarik ke atas.
“Dia lagi mandiin si bungsu, Yas. Dan teleponnya gue speaker,” jelas Rehan like matter of fact.
“Waw, ini baru tanda-tanda akhir zaman! Abis yang biasa gue denger si Aryo kalo gak lagi di gunung, di laut, atau enggak di tukang pijit gara-gara badannya rontok abis dikejar beruang.”
“Dia lagi off traveling dua minggu. Jadi gue bisa istirahat sebentar. Biar dianya juga belajar cara ngurus bayi. Maunya nambah tapi ngurus gak bisa.”
“I hear that, Honey!” teriak Aryo masih dengan suara bergema. Kali ini disertai gemericik air dan tawa anak kecil. Aku berani bertaruh ia sedang kewalahan memandikan anaknya sekarang.
“Eh, anyway, persiapan pernikahan Nada gimana? Gak berasa ya udah bulan depan aja.”
“Iya, bulan depan. Gara-garanya gue musti ngerjain tugas sebulan ke depan lebih awal demi dikasih cuti sama kantor.”
“Hahaha, Yas, ngomong-ngomong kenapa lo gak minta anterin Dimi aja sih? Calon suami berprospek tinggi kok dianggurin.”
Suami….
Tak sedikit pun kata itu terbesit di pikiranku selama ini. Membayangkannya saja tidak berani. Umur boleh 27, tapi pikiran dan jiwaku masih terjebak di umur 22, di mana aku selalu merasa masih terlalu cepat untuk menikah. Dan pria itu? Dia lebih parah. Wajah seperti 19, suara seperti perokok berat berusia 30, tapi sifat seperti anak 10 tahun. Berprospek tinggi dari segi mananya?
“Honey, Aqilla kayaknya mau pup nih! Aku musti ngapain?”
Aku tersenyum kecil mendengar suara memelas Aryo. Masih kuingat jelas obrolan kami sepuluh tahun lalu. Ia bilang pencapaian terbesarnya adalah ketika berhasil menemukan sesuatu yang bisa membagi cintanya dengan alam bebas. Dan aku tahu, Aryo telah sampai pada tahap itu. Di satu sisi aku senang. Di sisi lain, aku merasa kalah. Aku masih tertinggal jauh di belakang. Masih tersesat pada resolusiku sendiri.
“Aduh, si Aryo bener-bener musti gue training deh ini.”
Baru saja jempolku hendak memencet tombol bergagang merah, sayup-sayup kudengar bisikan dan benturan di ujung telepon. Lho, kirain udah selesai. Kembali kulekatkan ponsel ke daun telinga.
“Yoooo, Ayas! Apa kabar Dimi?”
Sialan! Ngobrol sama siapa, yang ditanya kabarnya siapa.
“Apa lo?!” tanyaku sekenanya. Membuat pria brewok di ujung sana cekikikan.
“Gua baru tahu semalem kalau Nada mau ngelangkahin elo. Yang bener aja, Yas? Bukannya lo sendiri juga udah punya calon?” Calon? Apanya yang calon? “Eh, bentar. Lo gak serius kan dengan obsesi lo keliling dunia sebelum menikah?”
Malas berpikir banyak, jadi kuiyakan saja. “Itu salah satu alasannya. Tapi yang jelas orang tua gue udah seneng banget sama calon lakinya Nada. Katanya punya masa depan cerah. Umur juga di atas gue which is doi lebih desperado lagi buat nikah. Lagian orangtua gue masih nganggep gue dan Dimi anak SMA baru pacaran. Jadi, kalau pun Dimi ngelamar, gue ragu akan langsung diterima.”
“Hmmm,” Aryo menghembuskan napas berat. “Tapi ya, Yas, yang gue lihat akhir-akhir ini justru Dimi jadi lebih dewasa. Apalagi setelah kalian balikan. Elo tuh yang kayak anak kecil. Curiga jiwa kalian ketuker.”
Ya, itu benar. Aduh, bagaimana ya menjelaskannya?
Begini, aku dan Dimi kenal dari tujuh tahun lalu. Saat itu Aryo baru jadian dengan Rehan (setelah menghabiskan masa SMA dan kuliah bersama dalam tameng sahabat). Tidak tega melihatku sendiri, Aryo lantas mengenalkanku pada teman-teman di kampusnya. Berkali-kali ikut kencan buta, hatiku justru terpaut pada satu pria yang tak sengaja kutemui saat menemani Aryo mencari kado untuk anniversary mereka.
Pria itu.
Pria berambut coklat keemasan dengan poni nyaris menutupi alis. Pria yang kukira masih berusia belasan. Pria yang kulitnya terlalu putih untuk ukuran orang asia. Pria yang memakai jaket berlambang tengkorak topi jerami. Pria yang tersenyum sangat lebar saat bersalaman. Begitu lebar sampai aku bisa melihat giginya yang kecil-kecil namun rapi. Suaranya berat seperti pecandu rokok, namun langsung terbantahkan melihat bibirnya yang merah alami. Aku seperti melihat gambaran real life karakter utama pria di manga shoujo*. And i swear my heart just stopped for a moment when he slightly called me ‘A… yas?’. Awleee. An effortless cute-guy ever.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung meminta Aryo untuk mengatur kencan buta dengannya. Aryo enggan. Ia mengingatkanku kalau Dimi adalah orang yang aneh—teraneh di fakultasnya malah. Kubilang saja, orang normal itu membosankan. Alasan utamaku sebenarnya adalah karena kami mempunyai ketertarikan yang sama. Membuatku sedikit lega karena tak perlu pusing memikirkan tema pembicaraan saat kencan buta nanti. Lagi lagi Aryo menolak. Malas berdebat, jadi kuiyakan saja.
Namun takdir mempertemukan kami lagi. Kali ini di pernikahan Aryo dan Rehan setahun kemudian. Dimi tampak berbeda. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam dan rambutnya yang berwarna brown ash digel membentuk jambul. Usia yang terlukis di wajahnya langsung bertambah sepuluh tahun lebih tua dari yang pertama kali kulihat. Ia sungguh menyilaukan. Namun saat kami berbincang, sifat aslinya langsung keluar. Ia dengan mata berbinar menceritakan betapa tergila-gilanya ia dengan One Piece. Dan mungkin aku sama berbinarnya saat itu. Tidak banyak yang tahu bahwa aku sangat menggemari manga, bahkan orangtuaku sendiri. Selama dua puluh tahun lebih aku menjalani hidup dengan biasa-biasa saja. Seperti robot. Aku tidak tahu harus dengan siapa berbagi passion ini. Saat tahu di luar sana ada manusia seumuranku dengan kadar kegilaan yang sama, aku merasa bertemu teman. Hanya saat bersama Dimi aku merasa jadi diriku sendiri. Bukan Ayas yang sehari-harinya membosankan, tapi Ayas yang lebih hidup. I’m still a robot. But the happy one.
Dalam waktu hitungan bulan kami pacaran. Tentunya bukan pacaran seperti pada umumnya. Seminggu sekali, saat aku libur kerja dan ia istirahat menulis, kami berdua menonton anime seharian penuh di apartemennya. Tempat kencan favorit kami adalah lantai paling bawah Blok M Square di mana komik hanya seharga lima ribu perak. Hobi kami adalah karaoke sambil menari soundtrack anime di mana pun dan kapan pun. Mungkin Syaiful Jamil versi dua orang. Orang-orang bilang kami adalah pasangan yang aneh. Hanya aku yang bisa mengimbangi Dimi, tanpa mereka tahu sebenarnya Dimi juga banyak membantu melengkapi kegilaanku yang selama ini tertutup dalam cap wanita mainstream.
Sampai suatu hari kami berbicara soal mimpi. Di situ hubungan kami diuji. Aku ingin keliling dunia, hinggap dari satu tempat ke tempat lain. Seperti kupu-kupu. Aku lelah stuck di satu tempat saja—seperti yang selama ini kulakukan. Sementara Dimi berbeda. Di balik keanehannya, ia justru bermimpi sangat sederhana. Ia ingin menetap di sebuah tempat di mana tepat di depannya mengalir sungai kecil yang dijejeri pohon sakura. Merasa visi misi bertentangan, kami pun putus—lebih tepatnya aku yang memutuskan. Sederhana sekali bukan cara putusnya?
Namun Aryo dan Rehan melihat kehidupan kami setelahnya justru lebih mirip mayat hidup, terutama Dimi yang masih belum mengerti di mana letak permasalahannya. Kalau kangen, aku diam-diam menanyakan kabar lewat Rehan karena ia dan Dimi sama-sama bekerja di sebuah perusahan publishing. Bosan menjadi “tukang pos”, ia menyuruh kami untuk membicarakan hal ini baik-baik. Dan anehnya, dalam masa konsilidasi tersebut Dimi tidak pernah membahas alasan mengapa kami berpisah. He put all the blame on him. Dia pikir aku tidak kuat dengan sifat kekanak-kanakannya. Setiap aku ingin menjelaskan, ia langsung membekap mulutku dengan tangan besarnya, menahanku untuk bersuara. Ia benar-benar ingin menutup lembaran itu. Anggap saja tidak pernah terjadi. What can I do?
Kami pun menyatu kembali. Tapi dengan bara yang tak lagi sama. Kami menjalani hidup seperti dulu. Tapi tidak tahu ujungnya akan seperti apa. Prospek kami perlahan berubah seabsurd New World*.
“Ayas, hello? Lo dengerin gue gak?”
Suara perempuan di ujung sana mengetuk kesadaranku. Hey, sudah berapa lama aku melamun?
“Ah. Sorry, Han. Kenapa?”
“Titipan lo udah gue kasih ke Dimi ya. Kemaren gue ketemu dia di kantor. Kayaknya buku terakhir dia mau cetak ulang kelima deh.”
“Oh ya?!” aku harus minta traktir! “Oke, bilang Aryo jangan bosen bosen ngirimin gue pasir ya. Gue doain dia makin sering jalan jalan.”
“Hush! Lo mau gue jadi orangtua tunggal?”
“Hahahaha sori sori. Salam ya buat Gwen sama Aqilla. Auntie kangen. Bye!”
“Dah, Ayas.”
Tanpa sengaja mataku jatuh ke jarum jam di tangan saat memasukkan ponsel ke saku celana. Dua belas lewat seperempat. Berarti aku masih punya waktu tiga jam lagi sebelum menyerahkan storyboard iklan pasta gigi ini ke kantor. Ah, aku belum cerita ya? Aku bekerja di sebuah agensi iklan di Jakarta. Dan untuk project kali ini taruhannya sungguh besar. Kalau berhasil, aku diberi hadiah jalan-jalan ke Jepang. Tapi kalau gagal, aku dipecat. Segitu berharganya iklan kali ini.
Kucengkram kuat gelas mocha frappe di tangan. Sesekali menatapnya tanpa minat. Bayangan bos besar di kantor tengah berceloteh panjang mengomentari kinerjaku yang kian menurun kembali terngiang. Kuakui sebulan ini aku kehilangan fokus. Hectic-nya kerjaan di kantor dan banyaknya ritual yang harus kujalani karena dilangkahi adik duduk di pelaminan betul-betul menguras energi. Bukan, bukannya aku tidak senang dengan pernikahan ini. Justru aku bahagia karena adikku satu-satunya berhasil menemukan pasangan hidup. Tidak seperti aku yang sudah cinta mati dengan seseorang namun tidak memiliki masa depan dengannya. Belum lagi cibiran orang-orang dan keluarga yang menganggap tabu seorang adik menikah duluan. Semua omongan mereka kutelan mentah-mentah. Sampai rasanya bisa membuatku mati tercekik.
Aku masih berkutat dengan pikiranku sendiri saat gerbong kereta di jalur 4 berhenti tepat di depan wajahku. The power of daydreaming! Berdebat dengan pikiran sendiri memang tidak ada habisnya. Dan gara-gara obrolan random barusan, aku jadi kepikiran pria itu. Ia punya ritual kalau bukunya tembus cetakan kelima, maka ia akan mulai menulis cerita baru dengan genre berbeda. Masalahnya, ia bisa tidak tidur berhari-hari demi mencari gaya tulisan yang cocok. Dan aku yakin sekarang apartemennya sudah seperti kandang babi. Baiklah, habis dari kantor aku akan ke sana.

* * * *
Aku tarik kembali ucapanku tadi. Kurasa kandang babi masih lebih rapi dari rumahnya.
Begitu pintu terbuka, converse berbagai warna berceceran memenuhi rak. Kaus kaki pun sudah tidak jelas lagi yang mana pasangannya. Semakin masuk ke dalam, semakin banyak gumpalan kertas dan bungkus makanan ringan bertebaran. Di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang TV pemandangannya lebih tidak enak lagi. Alas meja sampai tidak terlihat karena tertutup tumpukan bungkus mi instan dan kaleng cola kosong. Di pinggirnya tergeletak lemah laptop dalam posisi setengah tertutup. Remahan kebeng pun dengan mudah kutemukan di lantai. Ah, aku tidak heran kalau dari tumpukan sampah itu tiba-tiba keluar tikus.
Dan di sana, di sofa kebesarannya, tidurlah seorang pria dengan rambut habis di-bleaching ala Kaneki—akibat dari hari minggu kemarin kami anime-marathon serial Tokyo Ghoul. Kakinya yang panjang sampai harus ditekuk agar muat.
“Dimi?”
Kuguncang lengannya yang tak tertutup selimut. Wajah Dimi tampak pulas dan tenang. Sungguh membuatku tidak tega membangunkannya.
“Dim? Pindah ke kamar gih! Nanti kakinya sakit kayak kemaren.”
Jangankan merespon. Bergerak saja tidak.
“Dimi? Dimitry Dharsono? V Dharsono?”
Barulah ia menggeliat setelah kusebut nama penanya.
“Kalo kamu ringan, aku pasti udah gendong kamu masuk ke kamar. Buruan sebelum kaki kamu sakit!”
Dimi membuka matanya sebelah. Perlahan namun pasti ia mengganti posisi menjadi duduk, masih dengan mata segaris. Kuhempaskan tubuh di sampingnya, memperhatikan wajah pria ini lebih dekat. Sepertinya ada yang beda.
“Hobi kok gonta ganti warna rambut. Udah nutupin mata lagi. Nanti aku potong ya.”
Ia hanya mengangguk. Dan tanpa bisa diprediksi sebelumnya, tangan besar Dimi sudah meraup bahuku. Entah karena aku yang terlalu kecil atau memang lingkar tubuhku begitu pas di pelukan Dimi.
“Kantor?” tanyanya dengan suara serak dan pelan. Masih jelas terdengar karena bibirnya menempel di telingaku. Bukan. Dimi sama sekali bukan pria greasy yang haus akan belaian. Butuh waktu lima bulan berpacaran untuk tahu bahwa Dimi selalu bersikap manja saat setengah sadar. Dan detak jantungku selalu berantakan setiap kali hal ini terjadi.
“Ini baru pulang. Udah makan?”
Ia menunjuk mejanya. Ya, benar juga. Harusnya aku tidak bertanya.
“Hhhh… pasti makan indomi mentah lagi. Segitu gak sempetnya bikin yang bener?”
Bukannya menjawab, dekapannya justru semakin erat. Dan kini sudah berpindah ke pinggang. Dimi benar-benar tidak sadarkan diri.
“Aku beresin kamar dulu. Abis itu kamu pindah. Nanti makanannya aku masukin kulkas aja biar kamu panasin sendiri. Abis itu aku pulang.”
Pergerakanku seolah dikunci seluruh tubuh Dimi saat hendak berdiri. Aku terkurung. Dan tidak bohong, aku sangat menikmatinya.
“Kamu itu pacarku. Bukan pembantu. Don’t do those things anymore. I can hire someone to clean it later,” larangnya masih dengan suara serak. Seketika membuatku merinding hebat.
“Enakan pembantu dong. Mereka digaji. Lah aku?”
Kurasakan bibir di telingaku bergerak membentuk senyuman. Sayang aku tidak bisa melihatnya. Ia pasti sangat tampan saat ini.
“But I give you all of me,” dan aku tahu yang akan ia lakukan selanjutnya. Tuh kan benar. Ia menyanyikan sampai habis refrain lagu All Of Me dalam posisi ngelindur. Orang gila.
“Dim, serius. Aku harus beresin rumah kamu sekarang sebelum semuanya berubah jadi kecoa. Setelah itu aku bisa pulang dengan tenang.”
“Yas, please,” mohonnya lembut. Masih sambil memelukku. “Kamu gak tahu betapa rindunya aku sama pinggang ini. Sebentar aja. I need to recharge my energy.”
“Err… you sound like a psycho. Jangan-jangan novel kamu yang sekarang tentang itu?”
Dimi terkekeh. Betul tebakanku. Pantas saja ia terlihat lelah. Genre kali ini benar benar jauh dari yang biasa ia tulis.
“Oke. Sepuluh menit.”
Tak ada respon. Bahkan tanpa diberi aba-aba pun Dimi pasti sudah lanjut tidur. Segitu lelahnya kah ia?
“Dim? Hello? Dimi?”
Omonganku ini hanya dibalas dengkuran halusnya. Kalau sudah begini aku jadi tidak berani mengganggu.
Hening merangkul kami cukup lama. Mataku pun mulai terasa berat, seperti digelayuti sesuatu. Tidak, Ayas. Tidak! Aku menggeleng cepat, berusaha menyadarkan separuh tubuhku yang mulai tertidur.
Ah, aku baru ingat. Sebenarnya tujuanku ke sini tidak semata melihat kondisinya. Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Tapi aku terlalu takut melihat reaksinya. Mungkin aku bisa mulai pemanasan saat ia terlelap, seperti sekarang. Aduh, tetap saja aku grogi!
“Dim,” ucapku seolah ia mendengar, setengah gemetar. “Aryo kayaknya tahu kenapa dalam waktu tujuh tahun ini kita gak pernah sampai ke pelaminan. Aku tahu kamu gak suka ngebahas ini. Tapi… kamu ngerasa gak sih kita stuck? Kayak udah jalan jauh, padahal masih di sini-sini aja.”
Lawan bicaraku bergeming bagai batu. Berkebalikan denganku yang mulai merasakan guncangan hebat di dalam tubuh.
“Aku.. bukannya meremehkan perasaanmu. Hanya aja, have you realize this relationship don’t work out like we used to? Lama-lama rasanya menyiksa juga, Dim.”
Kulirik pria yang masih tampak pulas itu dari ekor mata. Napasku mulai sengal. Sepertinya sebentar lagi aku akan menangis. Hal yang selalu terjadi setiap kali aku memikirkan mimpiku dan hubungan kami dalam waktu bersamaan.
“Kamu tahu aku sangat bosan dengan hidupku yang gini-gini aja. Sementara kamu menginginkan hidup yang tenang. Pengalaman hidup kita berbeda. Aku gak mau terjebak dengan siklus kehidupan ini terus-menerus… sampai aku mati. Aku… ingin jadi kupu-kupu, Dim.” Tanpa sadar bibirku mengembang membentuk senyuman. Membayangkannya saja sudah membuat hatiku naik turun karena bahagia. “Datang ke tempat-tempat baru yang selama ini cuma bisa ku-googling, menciumi udaranya sampai bosan, ambil pasirnya, lalu pergi lagi ke tempat lain. Dan akhirnya aku akan punya tabung pasir sendiri dari berbagai tempat, bukan pasir hasil nitip ke orang lagi. Mungkin mereka udah bosan selama ini selalu minta dibungkusin pasir, bukannya gantungan kunci atau hiasan kulkas.”
Kembali, aku menarik napas berat. Seperti ada benda tak kasat mata menghalangi jalan masuk udara ke tubuhku. Di satu sisi aku ingin membereskan hal ini. Tapi di sisi lain aku tidak ingin kami berakhir (lagi). Namun melanjutkan hubungan tanpa arah juga tidak baik. Aku langsung membayangkan betapa marahnya orang tuaku kalau tahu anak sulung mereka sedang dalam hubungan tanpa masa depan.
“Aku jahat banget ya, Dim. Membiarkan kamu ngerasa bersalah padahal di sini aku yang bermasalah. Aku yang keras kepala. Aku gak bisa membayangkan kalau hidupku akan berjalan konstan seperti ini terus. Dan aku pengen tahu apakah akhirnya kita bisa satu misi, atau akhirnya bubar jalan lagi. Aku butuh waktu dan ruang yang baru untuk berpikir. Ah, kamu inget project terakhir yang aku kerjain? Hasilnya keluar waktu aku on the way ke sini. Bahkan bosku sendiri yang nelepon langsung. Aku gak jadi dipecat, Dim! Malah aku dapet bonus dari kantor keliling Jepang seminggu. Dan… berhubung waktunya pas dengan jadwal cutiku, rencananya aku mau lanjut ke tempat lain. Mungkin Korea? Tiongkok? Thailand? Atau Eropa?”
“Kamu apa?”
Aku nyaris saja tersungkur ke depan kalau bukan sedang dalam posisi sedang didekap erat. Mata Dimi tiba-tiba terbuka, berusaha menetapkan fokus walau kuyakin itu sulit. Hey, bukannya dari tadi ia tidur?
“Dim? Aku bangunin kamu ya?” tanyaku panik. Panik karena mengganggunya, juga panik karena takut ia mendengar semua ucapanku.
“Gak, enggak, enggak. Tadi kamu apa?” ia menegakkan dudukannya. Melemparku dengan tatapan bingung yang anehnya melakban pergerakan bibirku. Aku jadi tidak berani membuka mulut. Sial! Segitu tak berkutiknya aku di bawah Dimi.
“Kamu harus pindah ke kamar.” Good Ayas! Alasan yang sangat cerdas. “Hehe.”
Tatapan itu perlahan melunak. Tatapan yang nyaris tidak pernah kulihat kecuali saat ia benar-benar lelah. Hell no, did I just interrupted his nice sleep?
“Yas, apa sih yang bikin kamu segelisah ini? Aku bukan pembaca kode, yet a fortune teller,” kalau cara bicaranya serius seperti ini, berarti Dimi sudah sepenuhnya sadar. “Kita udah pernah gagal sekali dan itu karena kita gak terus terang satu sama lain. Aku gak mau kayak gitu lagi, Yas.”
“Dimi…,” lidahku ikutan kelu. Aku menunduk dalam sambil menggeleng keras. Tidak. Aku tidak sanggup dengan efeknya.
“Sini,” tangan besarnya meraup kedua tanganku. Entah sudah berapa kali aku mendeskripsikan bentuk tangan Dimi. Tapi sungguh, tangannya begitu besar bila dibandingkan dengan tanganku. “Cerita sama aku apa yang pengen kamu omongin. Apapun itu. Aku pasti dengerin.”
Kami-sama*, aku baru saja tertangkap basah. Pemanasan tadi belum cukup membuatku siap dengan praktik nyatanya. Beberapa detik kami saling diam. Aku masih terjebak dengan pikiranku sendiri. Sementara Dimi tetap sabar menunggu—tanpa melepaskan sedetik pun tatapan elangnya dariku. Baiklah, kurasa momen ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. So, now or never.
“I know i’m a coward. I know clearly i’m such a douchebag too. Dan aku gak tahu kenapa Tuhan masih bikin kamu mau sama aku setelah semua yang telah aku lakuin ke kamu. Semakin ke sini aku ngerasa ‘kamu’ dan ‘mimpiku’ adalah dua paket yang berbeda. Di mana aku harus pilih salah satu.”
“Mimpi?” alis Dimi naik sebelah. “Mimpi kamu untuk keliling dunia sebelum menikah? Apanya yang salah dengan mimpi itu dan.. aku?”
Ya. Itu benar. Ia tahu mimpiku apa. Dan di sini aku yang mempermasalahkannya. Aku seperti wanita brengsek, bukan?
“Tujuan hidup kita bertentangan,” akhirnya kuberanikan diri menegakkan kepalaku. “Kamu pengen hidup tenang di satu tempat. Sementara aku ingin berkelana. Aku ingin menginjak tempat lain selain tempat yang biasa aku sambangi. Aku gak pengen stuck di satu tempat aja, Dim. Aku gak pengen lagi.”
Dimi masih tampak tenang. “Dunia ini luas, Ayas. Pertanyaannya: kamu mau ke mana?” Kelihatan sekali ia berusaha untuk tersenyum. Meski kuyakin kepalanya jadi migrain tiba-tiba harus mencerna ini semua begitu terbangun dari tidur singkat.
“Aku akan mulai dari Jepang,” jawabku yakin.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Enggak!” larangnya tegas dengan mata melebar. “Jepang gak sekecil komplek kamu, Ayas. Gak bisa. Aku harus ikut.”
Tawaku meledak mendengar ucapannya. “Seriously, Dim? Kamu diajakin ke mall aja males apalagi keliling Jepang.”
Tak mengerti letak lucunya di mana, rahang Dimi justru mengeras. “Kamu tahu aku sangat suka Jepang. Harusnya gak ada masalah dong? Lagian Aryo juga pernah ngajak Rehan traveling.”
Dengusan kesal keluar begitu saja dari hidungku, lupa kalau baru saja tertawa. “Kamu lupa ya si Gwen ‘jadi’nya gara-gara apa?”
Dimi terdiam. Meski sudah enam tahun berlalu, masih begitu segar diingatanku saat Rehan mengatakan tengah mengandung anaknya dan Aryo tepat seminggu setelah kepulangan mereka dari Irlandia. Dimi juga tahu hal itu. Namun bukan Dimi namanya kalau langsung menyerah.
“Kalau gitu kita nikah. Abis itu kita ke Jepang.”
“KAMU,” tanpa sadar nadaku meninggi. Gantian mataku yang melotot sekarang. “Kamu gila?!”
“Aku gak pernah seserius ini seumur hidupku, Ayas.” Lagi-lagi cara bicaranya itu. “Pokoknya aku ikut.”
“Tapi aku dibiayai kantor.”
“Aku tahu aku cuma penulis dengan pendapatan gak seberapa tapi aku punya tabungan.”
“Tapi… itu kan untuk rumah impian kamu?”
Dimi membuka mulutnya tanpa suara. Wajahnya yang sedari tadi seolah ingin mengunyahku tiba-tiba saja melempem. Tubuhnya terpaku. Hanya matanya yang sesekali mengedip menandakan bahwa ia masih bernyawa.
“For God’s sake, Ayas!” ia menepuk jidat dengan bunyi yang cukup keras. “Astaga… jadi selama ini kamu nganggep serius omonganku itu?”
“Eih?” Ha? Hah? Apa maksudnya?
“AH! Aku baru inget. Waktu kita ngobrol-ngobrol itu aku belum selesai ngomong tapi kamunya udah tidur.”
“Lho?” lagi-lagi pose Dimi tadi pindah ke aku. “Memangnya abis itu kamu ngomong apa?”
Dimi tak bisa menahan senyumnya. Cukup lama sampai ia kembali memasang tampang serius. “Iya benar aku pengen punya rumah seperti itu. Menetap sampai punya keturunan di sana. Tapi kalau gak sama kamu ya percuma, Ayas. I don’t mean to be cheesy, tapi sakuranya hanya akan indah kalau ada kamu di bawahnya.”
Kami-sama… rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang. Jadi.. selama ini aku hanya salah paham? Salah paham yang sampai bikin aku uring-uringan berhari-hari, tidak, bertahun-tahun?
“It’s settle now!” seru Dimi. “Kalau gitu pas Nada nikah, kita juga nikah. Gak usah resepsi. Cukup ijab kabul aja. Abis itu kita traveling. Terserah kamu mau ke mana.”
“KAMU GILA?!”
Belum habis rasa keterkejutanku, tahu-tahu Dimi mengambil kertas yang berserakan di lantai tak jauh dari sofa. Merobek, menggulung, kemudian mengikatnya di jari manisku layaknya sebuah….
“Anggep aja ini cincin tunangan. Karena muat, aku anggap ini pertanda dari Yang Maha Kuasa kalau kamu terima lamaranku.”
Sebentar.. sebentar. Setengah jam yang lalu anak ini masih tertidur. Aku juga masih menyiapkan kata-kata untuk dibicarakan saat ia sadar nanti. Lalu kenapa tiba-tiba sudah ada kertas kusut melilit di jariku?
“Dim, kamu masih tidur kan?”
Kurasakan ujung bibirku menghangat beberapa saat. Meskipun terlihat seperti meleset, sesungguhnya ciuman seperti ini lah yang paling membuatku mati lemas.
“Kita cuma punya waktu satu bulan. Besok aku ajak Om dan Tanteku ke rumahmu then go to my parents’ grave. Temenku gak banyak, jadi gak susah ngundangnya. Nanti aku bantu bikin daftar undangan untuk teman-temanmu. Atau kita gak usah undang mereka aja? Jadi, ijab kabul lalu packing?”
God… did i just get proposed by the craziest guy with the craziest way?
“Eh, tunggu. Terus novel kamu gimana? Bukannya baru mulai?”
Dimi memandangku malas. “Ayas,” oh shit! That frickin’ melody! “Setelah obrolan intens kita barusan kamu masih mikirin itu?! Aku gak bisa menerbitkan novel keenamku kalau belum menerbitkan buku nikah. Dan ini prinsip.”
Plak! Sebuah kepalan tangan melayang di lengannya yang padat. Bukannya kesakitan, ia justru terkekeh bak orang kesurupan.
“Ayas, kalau tahu masalahnya cuma ini, udah dari dulu dulu aku nikahin kamu. Mungkin anak kita udah lima sekarang.”
“Aku pasti udah gak waras mau nikahin orang kayak kamu.”
“Kita memang couple gak waras kan?” jawabnya seperti itu adalah hal normal. Tanpa bisa ditahan, aku tersenyum sangat lebar seperti disangkuti gantungan baju. Tidak pernah kubayangkan akan dilamar olehnya. Dengan cara begini pula. Aku tahu jatuh cinta adalah menjadi bodoh bersama. Tapi mereka tidak bilang rasanya semenyenangkan ini.
Kukalungkan kedua lenganku di lehernya. Mengecup pelan mata sipit yang selanjutnya akan terus kulihat, yang akan menemaniku melihat sisi lain dunia di kemudian hari. Lalu membantuku mengumpulkan pasir di berbagai tempat. Pasir yang kudapat langsung dari tanganku, bukan pasir oleh-oleh lagi.
“Tapi predikat itu akan berubah, Dim. Dari ‘couple gak waras’ jadi ‘butterfly couple’.”
And I swear, my friday never felt this good…

* * * * *
Derap kaki seseorang sayup-sayup terdengar bersamaan dengan menyeruaknya bau pinus. Pinus. Bau yang sudah kuhafal di luar kepala. Bau yang sejak tadi malam ikut melekat di tubuhku.
Melihat bayangannya mendekat membuat otakku dengan cepat memerintahkan untuk segera berdiri. Kecemasan tak beralasanku tadi seketika lenyap dari pikiran. Ayas bodoh! Kalau pun ia ingin melarikan diri, kenapa tidak saat ijab kabul kemarin saja?
“Ayas, maaf lama. Cincinnya baru ketemu setelah nanya cleaning service toilet wanita,” ujarnya dengan napas setengah. Bisa kulihat jelas keringat sebesar biji jagung melekat di dahinya. “Makanya, cincin nikah jangan dibuka sembarangan. Untung ilangnya masih di bandara. Kalau udah di Jepang gimana?”
“Gomenasai!!!!”* kutangkupkan kedua tanganku di depan wajah. “Lain kali gak lagi. Aku akan lebih hati-hati.”
Dimi tersenyum kecil. Membuat lingkar hitam di sekitar matanya semakin jelas terlihat. Efek menyelesaikan novel dengan genre baru hanya dalam waktu satu bulan. Oleh karena itu, setiap hari aku harus ke rumahnya untuk membuatkan makanan dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Tepat sekali, aku menjadi pembantu seperti yang ia bilang sebelumnya! Namun tidak digaji dengan uang. Tapi dengan seluruh waktunya yang akan dihabiskan untuk menemaniku plesiran (atau sekarang istilahnya bulan madu).
“Barang-barang yang lain udah dimasukin bagasi?”
Aku mengangguk antusias. “Sudah masuk dengan aman, My Lord*.”
Dimi menggenggam tanganku dengan kedua ujung bibir tertarik. Senyum ini… senyum yang kulihat saat pertama kali kami bersalaman. Senyum anak kecil yang kadang-kadang membuatku merasa seperti pedofil.
“Let’s go!!!!” seru Dimi sembari mengenggam tanganku. Menyeretku masuk ke dalam pintu bandara yang sekaligus menjadi awal perjalan hidup kami sebagai pasangan suami-istri.
Satu hal yang akhirnya aku sadari setelah sebulan ini mengalami naik turun. Yang terpenting sebenarnya bukan ke mana. Tapi dengan siapa. Aku bisa saja ke ujung dunia sendirian. Tapi, tentu rasanya beda jika perginya bersama pria gila ini. Ke mana saja aku sanggup. Bahkan jika tak ke mana-mana sekali pun.

I can’t believe i’m married to the craziest dude ever.

*
1. Shoujo: manga yang ditujukan untuk pembaca remaja perempuan
2. New World: tempat legendaris di serial One Piece di mana cuaca dan waktu berjalan tidak menentu
3. Kami-sama: Tuhan, dalam bahasa Jepang
4. Gomenasai: maaf, dalam bahasa Jepang
5. My Lord: panggilan khusus Sebastian kepada Chiel di serial Kuroshitsuji (Black Butler)

by: Natasha Hangraini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s